Oleh :
Taufik Rahman
Cici Anisa…
Nama itu kini selalu berputar
di benak bapak setiap kali mata ini terpejam. Anak kecil yang manis, lembut,
dan penuh semangat kini telah kembali ke pelukan Sang Pencipta pada 1 November
2025, tepat pukul malam yang bapak tak akan pernah lupakan.
Padahal baru dua minggu yang
lalu bapak masih sempat mengunjungi rumahmu, Ci. Masih bisa melihat senyum
kecilmu, masih sempat menitipkan sedikit uang untuk les bahasa Inggris mu
pelajaran yang begitu kamu cintai. Siapa sangka, itu menjadi pertemuan terakhir
kita di dunia ini.
Bapak mengenalmu bukan dari
ikatan darah, tapi dari ikatan rasa sayang yang tumbuh begitu tulus.
Sejak pertama kali melihatmu,
di penghujung kelas 1 MI Miftahul Ulum, kamu sudah mencuri perhatian bapak.
Kamu anak yang rajin, sopan, dan gemar membantu ibumu di warung kecil di
sekolah.
Kamu sering terlihat mengantarkan
kopi ke ruang guru, tersenyum sambil berkata pelan, “Ini kopinya, Pak…”
Waktu itu bapak belum tahu bahwa pertemuan kecil itu akan
meninggalkan jejak begitu dalam di hidup bapak.
Ibumu adalah sosok tangguh seorang
pedagang yang berjuang membesarkan tiga anak sendirian setelah ayahmu meninggal
dunia karena sakit, saat kamu masih TK.
Kedua kakakmu kini sudah menikah, dan kamu, Ci… kamu
adalah satu-satunya hiburan, satu-satunya cahaya yang tersisa untuk ibumu.
Sejak hari itu, bapak sering
mampir ke warung kecil itu sekadar menyeruput kopi buatan ibumu, sambil
menikmati gorengan yang hangat.
Dan setiap kali bapak ke sana, cici selalu saja ada sambil
memegang hape kesayangannya.
Selalu dengan senyum mata sipit, dengan sapaan, dengan
celoteh polos yang membuat hati bapak hangat.
Entah sejak kapan, bapak
mulai menyayangimu seperti anak bapak sendiri.
Padahal, bapak dan istri sudah menikah tiga tahun, tapi
belum dikaruniai seorang anak.
Tapi mungkin, Tuhan menitipkan kamu untuk sementara waktu
agar bapak tahu rasanya punya anak perempuan.
Tahun
demi tahun berlalu.
Kamu tumbuh menjadi anak yang
pintar, lembut, dan penuh rasa ingin tahu.
Kamu sering bercerita tentang pelajaran di sekolah,
tentang cita-citamu, bahkan tentang hal-hal kecil yang hanya kamu anggap lucu.
Bapak ingat, pernah menegurmu karena terlalu sering main
HP bapak khawatir matamu lelah.
Kamu hanya cemberut, tapi tetap mendengarkan.
Itulah kamu, Ci. Selalu bisa membuat siapa pun tersenyum,
bahkan saat sedang dinasehati.
Ketika bapak berhenti bekerja
di MI Miftahul Ulum, hubungan kita tak pernah putus.
Bapak masih sering ke warung ibumu setiap akhir pekan,
membawa sedikit uang untukmu bukan karena banyak, tapi karena bapak ingin kamu
tahu bahwa kamu selalu punya “bapak” yang peduli padamu.
Bapak tahu kamu suka bahasa, makanya uang itu kadang bapak
bilang, “buat les bahasa Inggris, ya Ci.”
Dan kamu selalu jawab dengan senyum malu-malu, “Iya, Pak…”
Tapi
hari itu datang terlalu cepat.
Hari Sabtu sore, 1 November 2025, bapak melihat status
WhatsApp ibumu bahwa kamu sedang sakit DBD. Bapak komentari, berharap kamu
segera sembuh.
Beberapa jam kemudian, pukul 20.01, kabar itu datang.
Kabar yang membuat dada bapak sesak, tangan bapak
bergetar, dan air mata bapak jatuh tanpa bisa ditahan.
Bu Dewi, guru les kamu, mengabarkan bahwa kamu sudah
berpulang.
Malam itu menjadi malam
paling kelabu dalam hidup bapak. Bapak tidak ingin percaya. Bapak menangis, bapak
berdoa, bapak bertanya kenapa secepat itu, kenapa tidak diberi sedikit waktu
lagi untuk sekadar melihatmu tertawa. Bapak tidak berhenti menangis ketika
mendengar kabar kematianmu, menyolatkan jenazahmu, hingga engkau diistirahatkan
ke liang lahat, bahkan sampai tulisan ini dibuat bapak masih belum berhenti
menangisi kepergianmu. Ci..
Cici…
Bapak tahu kamu sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi.
Kamu sudah tenang, sudah beristirahat di tempat terbaik,
di samping ayahmu, Pak Bagus.
Tapi bapak… bapak masih sering menangis setiap kali
mengingatmu.
Bapak masih belum bisa ikhlas sepenuhnya, Ci.
Bukan karena bapak tidak ridha dengan takdir, tapi karena
kehilanganmu seperti kehilangan anak sendiri.
Maaf, Ci…
Maaf kalau selama ini bapak jarang datang, jarang main,
jarang menemani kamu belajar.
Maaf kalau bapak pernah marah atau menegurmu dengan nada
tinggi.
Bapak cuma ingin kamu tumbuh jadi anak yang baik, sehat,
dan bahagia.
Sekarang bapak cuma bisa berdoa.
Semoga Allah menempatkanmu di surga-Nya yang paling indah.
Semoga cahaya kecilmu terus bersinar di sana, sebagaimana
kamu pernah menerangi hidup kami di sini.
Selamat jalan, Cici Anisa.
Terima kasih sudah hadir dalam hidup bapak meski sebentar,
tapi begitu membekas.
Terima kasih sudah mengajarkan arti kasih bapakng tanpa
batas.
Dan terima kasih sudah membuat bapak percaya, bahwa cinta
seorang anak tidak harus lahir dari darah, tapi dari hati.
Doa bapak selalu menyertaimu, nak.
Sampai nanti, kita bertemu lagi di tempat di mana tidak
ada lagi air mata, dan hanya ada senyum yang abadi.
